Sunday, July 14, 2013

SAMBEL TEMPE



Tiap orang pasti punya makanan favorit, terkadang bisa jadi itu resep rahasia keluarga yang terkunci dalam botol bersegel, yang mungkin tidak ada dalam menu restoran manapun. Tidak selalu mahal, mungkin hanya berupa sambal atau lauk sederhana. Seperti menu favorit saya ini, sambel tempe.  It’s so simple cuisine... Seperti menu-menu rakyat kecil lainnya, saya menduga-duga menu ini tercipta dari keprihatinan keluarga kami dulu. Ketika protein hewani tak terbeli, tempe menjadi bahan paling rasional untuk dijangkau dan dijadikan bahan makanan. 

Tempe ini menurut para ahli lebih otentik nusantara ketimbang tahu yang berasal dari daratan Cina. Wikipedia mendeskripsikan tempe sebagai makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. Oryzae, Rh. Stolonifer (kapang roti) atau Rh. Arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”.

O ya.. tempe ini memang pada dasarnya makanan favorit saya. Mau diapa-apain, itu lebih menarik ketimbang yang lainnya, dibikin sayur oke, jadi mendoan sedap, jadi kripik pasti mantap, dan selalu enak kalau dibikin oseng-oseng pedas... Meski ini simbol makanan proletar, saya tak merasa rendah diri. Bahkan mungkin sebenarnya asumsi ini harus dikoreksi, karena siapapun tahu bahwa bahan dasar tempe ini adalah kedelai (glicine soja) yang sebagian besar impor dari lahan-lahan pertanian raksasa di California. Ironi negeri agraris dengan ribuan insinyur pertanian yang ternyata lebih tertarik bekerja di bank, jadi pegawai negeri dan perusahaan multinasional yang gak ada hubungannya dengan pertanian. Jadilah tanaman yang sudah dibudidayakan oleh manusia sejak 3500 tahun lalu di Asia Timur ini seperti tidak mendapatkan tempat di lahan-lahan petani kita...

Sejujurnya, makanan ini paling enak diracik oleh ibu saya, karena beliaulah yang pertama kali  “menciptakan”nya... setidaknya pengalaman indera pengecap saya tentang sambel tempe, referensinya adalah selalu dari beliau. Istri saya yang tahu ini makanan kesukaan saya, perlu beberapa kali trial and error untuk mendapatkan rasa yang otentik. Besarnya cinta kami mampu melengkapi kekurang otentikan rasa asli sambel tempe.. (he...he..) Begitupun dengan chef kantor dulu, Ma Mae dan Pa Suyud (alm) yang bersusah payah meracik makanan tersebut....

Baiklah... saya akan berbagi rahasia resep sambel tempe tersebut. Karena ini rahasia, tentu saja takarannya saya tidak bisa berikan. Biarkan ini jadi misteri dan rahasia besar. Bahan-bahannya sbb :
-       Tempe yang segar (saya lebih suka yang biji kedelainya besar-besar)
-       Cabe merah
-       Cabe rawit
-       Bawang merah
-       Bawang putih
-       Garam
-       Gula
-       Terasi    
Tips: Jangan lupa tambahkan sesendok cinta dan passion agar rasanya merekah seperti mawar di kebun bunga istana.

Semua bahan tersebut dikukus... biasanya suka dikukus didalam nasi yang mau matang, tentu saja pakai alas ya.. bisa piring kecil.  Jadi nanti nasinya bertambah sedap... meski mungkin juga jadi bercampur rasa terasi...  Bisa saja sih dikukus tanpa bareng nasi, ini hanya kebiasaan saja dulu untuk menghemat bahan bakar minyak. Setelah matang atau lebih pasnya layu (ciri-cirinya begitu ditambah dengan bau harum bumbunya keluar), bumbu diuleg sampai halus... untuk tingkat kepedasannya tentu saja sesuai selera, mau level 1, 3, 5 atau 999 juga boleh.. he..he..

Setelah itu, tempe diuleg atau dimasukin ke cowet (tahu cowet ya?? Ini tempat buat nguleg sambel... tapi jangan pake blender ya.. gak akan orisinil nanti rasanya). Tempenya jangan diuleg halus.. kasar aja. Jadi tekstur tempenya masih keliatan.  Rasa yang tercipta adalah perpaduan antara manis dan asin dengan sentuhan aroma terasi dan rekahan aroma bawang merah kukus. Yes.. finally tinggal cari nasi panas dan lebih lengkap pakai kerupuk. This is it.... Sambel tempe ala chef Farah Quinn.... eh.. ala Kadarnya maksud saya...

Sambel tempe
Simbol keprihatinan
Simbol perlawanan untuk harga yang melambung tinggi
Syimbolize of me.

Bandung, 14073013

Saturday, July 13, 2013

MATAHARI TERBENAM SELALU LEBIH INDAH (SAAT RAMADHAN)



Keindahan matahari ketika terbenam tiada satu orangpun yang menyangkal. Untuk menikmatinya orang mau bersusah payah, baik mengeluarkan tenaga dengan mendaki puncak-puncak tertinggi, atau mengeluarkan uang cukup besar untuk menikmatinya dari resort atau pantai eksotis di seluruh penjuru dunia. Dan keindahan matahari tatkala terbenam, akan jauh lebih ditunggu dan indah bagi umat Islam pada saat Bulan Puasa. Ya.. matahari terbenam berarti tanda dari alam untuk mengakhiri tabu makan dan minum di siang hari. Saatnya berbuka...

Kegiatan berbukapun menjadi satu ritual yang bukan saja berdimensi keagamaan, tetapi juga dimensi sosial. Jika pada hari-hari biasa orang bisa makan malam dimanapun, kapanpun, dengan apapun, namun di Bulan Ramadhan, makan terasa hambar dan terasa kurang nikmat tanpa kehadiran orang-orang terdekat, terutama keluarga. Menjadi sebuah pemandangan yang wajar jika kemudian kemacetan merata di seluruh penjuru kota pada sore hari, semuanya berebut untuk bisa berada di meja makan rumah tepat pada waktunya untuk melakukan buka puasa bersama keluarga. Perjuangan puasapun semakin berat, bukan hanya menaklukkan efek biologis tubuh yang kehilangan cairan (dan juga konsentrasi), tetapi juga menaklukkan ego untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah persembahan bagi pengguna jalan lainnya...

Berbuka puasa juga bukan lagi berbicara tentang gastronomi apalagi ala pengamat kuliner model Pak Bondan atau Om William Wongso. Sangat universal, relatif dan milik semua. Kenikmatan sepotong ikan asing belum tentu kalah dengan hamparan piring yang tersebar di meja rumah makan padang top. Teh manis hangat juga tak kalah nikmat dibandingkan dengan kolak campion yang beraneka jenis. Perjalanan spiritual disiang hari tentu juga akan mempengaruhi kualitas berbuka anda, bukan makanan berbuka anda.

Seumur hidup kita, tentu pernah mengalami berbagai macam cara dan materi makanan itu sendiri untuk berbuka. Mungkin ada yang pernah  berbuka dengan sekeping permen, bukan karena anda tidak mampu, tetapi karena anda dalam perjalanan dan tiada makanan apapun yang dapat anda pakai untuk membatalkan puasa, kecuali permen yang entah sudah berapa lama ada di dasboard mobil anda atau di kantong jaket barangkali. Pernahkah anda berbuka dengan satu botol air mineral dari pengasong di pinggir jalan karena anda gagal mencapai rumah pada saat magrib? Atau mungkin berbuka dengan kecap dan kerupuk, karena itulah rezeki kita hari ini. Atau anda punya pengalaman berbuka dalam jamuan makan yang agung karena host-nya adalah pejabat ternama? 

Secara pribadi, pengalaman berbuka di masa kecil tentu saja masih dipenuhi dengan fantasi indah berbagai makanan yang harus dikumpulkan dari pagi, mulai dari tukang sayur hingga pasar dadakan ramadhan. Mirip dengan mamalia yang mengumpulkan beragam makanan untuk bekal hibernasi. Masa kuliah, berbuka puasa adalah masa penuh kemerdekaan terutama saat masih menjadi junior dalam sebuah tempat makan berisi 2000-3000 orang yang makan yang jika kurang beruntung akan bertemu dengan senior yang iseng. Ketika sudah bekerja dan menjadi anak kos di belantara Jakarta, warung tegal adalah solusi irit untuk berbuka..

Dari semua pengalaman berbuka, satu yang selalu terkenang adalah berbuka bersama di Mesjid Istiqlal Jakarta. Kejadiannya mungkin sekitar tahun 2003an... Waktu itu saya kos di daerah Tomang dan bekerja di daerah Tanah Abang. Berbicara jarak, sebenarnya tidak terlalu jauh, dari kantor mungkin sekitar 3 kilometer. Tapi jalur ke Tomang memang merupakan pintu keluar orang dari pusat kota ke arah barat. Sore itu saya keluar kantor seperti biasa, jam 4 sore. Entah mengapa, lalu lintas pada saat itu sangat padat dan macet dimana-mana, muter-muter sampai melintasi Jalan Sudirman ke arah timur, masuk ke Merdeka Selatan, dan muter-muter sekitar Gambir. Kemana-mana macet, dan sangat tidak memungkinkan untuk berbuka puasa di rumah, eh di tempat kos. Di mobil tak ada sedikitpun makanan yang bisa dipakai untuk membatalkan puasa..

Sesaat lagi pasti adzan Magrib. Akhirnya mobil minibus ini diarahkan ke parkiran Masjid Istiqlal. Meski dekat, sejujurnya jarang saya sholat di mesjid yang konon terbesar di Asia Tenggara ini. Sekalinya ke istiqlal waktu itu, justru habis main bola sama teman-teman kantor dan mandi di mesjid buatan arsitek kristen Mr Silaban he3.... Setelah mengganti baju seragam kantor dengan kaos yang tergantung di mobil, saya ambil air wudhu. Celingak-celinguk, tampak orang-orang yang duduk membuat barisan yang berjajar rapi memanjang disepanjang koriodor dan lantai bawah istiqlal. Saya pun ikut mengambil tempat, mengikuti barisan yang sudah ada. Saya lepaskan pandangan menyapu kesemua barisan. Beragam orang, suku dan profesi tampaknya ada. Masih ada yang berseragam perusahaan taksi (pasti ini sopirnya...), potter Stasiun Gambir, pegawai negeri, tentara, mahasiswa, dan sebagainya pasti.  

Sementara itu, Kultum atau kuliah tujuh menit (saya tidak terlalu yakin itu tujuh menit, karena pembukaannya saja pasti lama... mungkin Kultum ini singkatan dari Kuliah Tujuh Belas Menit lebih) terdengar melalui pengeras suara. Di bagian bawah, petugas mesjid tampak membagikan makanan kepada mereka yang ada di barisan. Menunya lengkap.. teh hangat, permen, satu kotak nasi padang, kurma dan tak lupa sesisir pisang.. Sempurna. Ini lebih dari cukup.   Saya yakin, mereka yang berbuka puasa di Istiqlal sore ini pasti memiliki beragam  alasan, mungkin ada yang kepepet waktu, mungkin ada yang sengaja mencari pengalaman spiritual puasa di sini, bisa jadi mereka musafir, atau sengaja mencari buka puasa gratisan.

Apapun itu, berbuka puasa petang itu terasa nikmat. Mungkin karena capek setelah berkeliling mencari jalan pulang, mungkin juga ini pengalaman pertama saya berbuka secara kolosal. Mungkin juga karena buka puasa ini sangat berasa egaliter, tanpa sekat, tanpa kelas. Karena kita adalah orang-orang yang bernasib sama, berbuka tanpa keluarga. Namun yang pasti, saya merasa bahwa orang-orang yang berbuka di sekitar saya sangat merasa berbahagia dan menikmati hidangan ini. Kebahagaiaan yang mungkin dirasakan oleh mereka yang mendermakan rezekinya untuk berbuka puasa bagi jemaah di Istiqlal sore itu. Siapapun itu, saya ingin mengucapkan terima kasih...
Terlalu banyak pengalaman berbuka sepanjang hidup saya. Moment bersama keluarga adalah yang terindah dan selalu spesial, terlebih ketika dua malaikat kecil hadir dalam kehidupan kami. Namun pengalaman berbuka puasa di istiqlal tersebut selalu hadir setiap Ramadhan tiba. Selalu ingin kembali kesana, kalau bisa lengkap dengan sebelum keputusan untuk pindah kerja diambil... Allah maha besar. Semua karena kehendakMu.   

Ketika tulisan ini sampai di bagian akhir, cuaca mendung dan tak dapat menyaksikan sang surya terbenam di cakrawala. Tapi tetap saja, matahari terbenam di Bulan Ramadhan memang selalu terasa  lebih indah....

Bandung, 12072013 Ngabuburit depan komputer

Tuesday, July 9, 2013

RAZIA! RAZIA! RAZIA!



Puasa adalah bulan yang agung. Tak salah banyak orang yang merindukan bulan yang juga disebut dengan penuh penghormatan sebagai bulan seribu bulan. Persepsi dan perspektif seseorang terhadap bulan puasa ini tentu saja beragam, tergantung pemahaman dan pengalaman spiritual seseorang, mungkin ya... Untuk itu, seringkali kita dihadapkan dengan satu tradisi dari sekelompok orang yang mengatasnamakan penjaga agama yang berusaha mensterilkan Bulan Ramadhan dari hal-hal yang dapat mengganggu jalannya umat menjalankan ibadah puasa.
Dalam pandangan saudara-saudara saya tersebut, puasa mungkin berarti harus terbebas dari semua hal yang dapat menggoda dan membatalkan puasa. Untuk itu semua materi yang mengandung DNA maksiat harus ditutup, disingkirkan dan kalau membandel mau tidak mau harus dihancurkan. Sehingga, yang namanya diskotik, panti pijat dan tempat hiburan harus tutup. Minuman keras dilarang keras dipajang dan dijual tentu saja. Rumah makan dilarang mendisplay makanan yang bisa membatalkan puasa, kalau perlu jangan sampai jualan...

Tak mau kalah dengan organisasi keagamaan, aparat pemerintah daerah atas nama ketertiban dan menjaga kekhusukan orang berpuasa, ikut-ikutan melakukan razia.  Berbekal Perda K3 (Keamanan, Ketenteraman dan Ketertiban), aparat berseragam cokelat, bersenjatakan pentungan, mobil patroli, dan dibackup oleh aparat bersenjata, mereka menyasar dan melabrak warung-warung, diskotik, tempat-tempat penginapan murahan serta tempat-tempat yang disebut sebagai sarang setan. Agar lebih dahsyat, tak lupa operasi disertai dengan pers yang sengaja diundang untuk merekam adegan-adegan yang diharapkan dramatis, penuh ketegangan dan penuh kewibawaan.

Sepertinya sangat kontradiksi dengan makna bulan ramadhan itu sendiri. Bulan yang agung. Bulan yang dimana semua orang mendedikasikan keimanan, kesabaran, kemanusiaan, dan ketaatannya kepada Allah untuk tidak menyakiti orang lain. Jadi ketika sebagian orang sangat merindukan datangnya bulan puasa, sebagian lagi saudara kita (entah yang seiman, seiman tapi tidak menjalankan puasa, atau yang tidak seiman) sangat tidak mengharapkan datangnya bulan puasa, bulan yang bagi mereka adalah horor. Horor? Sulit mengatakan bukan horor ketika mereka harus kucing-kucingan dengan petugas atau ormas yang meminta mereka menutup usahanya. Yang berarti juga mereka harus kehilangan pendapatannya...

Maksudnya mungkin bagus. Biar orang-orang yang puasa tidak terganggu dengan pandangan-pandangan yang bisa mengganggu atau bahkan membatalkan puasa. So, lingkungan harus steril dari hal-hal kontrapuasa. Dan mereka yang berpuasa bisa dengan tenang menjalankan puasanya. Saya mungkin ingin menganalogikan  mereka mengawal puasa seperti mengawal rombongan pejabat yang akan lewat (atau kalau belum pernah ketemu rombongan pejabat, mungkin rombongan pengantar jenazah yang akan ke kuburan). Jalanan harus steril, tidak boleh ada penghalang yang dapat mengganggu rombongan. Sangat nyaman, bisa tenang-tenang di dalam mobil, dan sampai tujuan dengan selamat tanpa gangguan.

Bayangkan kita adalah  rakyat biasa dan harus menempuh jarak dan tujuan yang sama dengan rombongan tadi. Kita mungkin harus berjuang menerobos kemacetan, lampu merah, razia petugas, kaki lima yang ada di jalan, pak ogah, pengemis dan hal-hal yang bisa mengganggu perjalanan kita. Kita pasti harus tetap sampai ke tujuan akhir bukan? Dibutuhkan kreatifitas, kesabaran, ketabahan, pengorbanan dan perjuangan keras untuk sampai ke tujuan.
Mari berimajinasi, ketika sampai ke tujuan, rombongan yang dikawal dan mendapatkan previlege di jalanan, pasti akan tersenyum lebar dan bangga bisa sampai dengan selamat ke tujuan. Badan masih wangi, tenaga tidak terkuras karena berada dalam kenyamanan dan bebas dari kemacetan. Fresh. Bagaimana dengan yang tanpa pengawalan? Meski badan letih, capek, kusam, lemah, saya membayangkan dia akan syujud sukur dan mengepalkan tangannya di garis finish. Kepalan penuh kemenangan. Dan kemenangan yang diraih dengan perjuangan, tentu jauh lebih berkesan, bermakna dan lebih agung...

Sepertinya kita manja dan sangat arogan. Sepertinya kita hanya ingin sekedar menunjukkan bahwa pada satu bulan ini, dunia milik kita, dan semua orang harus mengerti serta memberikan respek kepada kita yang menjalankan puasa. Kita mungkin lupa, bahwa Al Quran mencatat bahwa sebelum kita (dan saat inipun masih) ada kaum yang melakukan ritual puasa. Kita mungkin lupa bahwa saudara-saudara kita yang Katolik, Advent, Hindu, Yahudi serta agama-agama lain dan penganut kepercayaan juga melakukan ritual puasa..  

Saya jadi ingat ketika anak saya yang pada saat itu masih SD kelas 1 dan sedang belajar berpuasa seharian,  harus menyaksikan teman-temannya yang sebagian besar beragama lain, dengan cuek membuka bekal jajannya di depan ruang kelas piano. Dan saya sangat  bersyukur ketika dia bisa menamatkan puasanya hari itu, dan saya sangat menghargai betapa perjuangan dia sangat berat hari itu. Godaannya sangat berbeda dengan saya yang masa kecilnya berada dalam lingkungan yang cenderung homogen dan agraris islam..

Puasa adalah tentang keikhlasan. Perintahnya sudah jelas, dan tidak perlu atas nama agama, kita menjadi superhero dan penjaga iman orang lain. Apalagi memaksa orang lain untuk menghormati kita, sementara kita sendiri terkadang tidak menghormati diri sendiri.... dengan mempertontonkan kemayoritasan dan arogansi berkedok agama.

Ahlan wa sahlan Ramadan. Mohon maaf lahir dan bathin...

Bandung, Pandangan Pribadi, 
sambil menunggu sidang isbat yang ternyata mendelay satu hari...

Sunday, July 7, 2013

MENDADAK BISMANIA



Udah lama gak berpetualang pakai bus malam...  Terakhir naik bis malam adalah dari Johor Baru ke Kuala Lumpur. Lumayan juga sekaligus buat perbandingan.... Hingga akhirnya bikin itinerary 2 malam 1 hari, ini berarti pit stopnya cuma beberapa jam aja di Jogja nanti. Bandung Jogja, berangkat malam Jumat dan ditargetkan malam Sabtu udah ada di rumah lagi.  Karena memang hari Sabtu mau ada acara wisuda di Kampus dan sudah ngerencanain mau dateng sama ibu negara... Kebetulan undangan VIP ditangan berlaku untuk dua orang. Sekalian pengin ngerasain aura wisuda sarjana dulu.. Dejavu.

BDG-JOG

Kebetulan Kamis sore saja ada jadual ngamen sore, jadi begitu kelas bubar, langsung ke rumah, sholat magrib, makan dan setelah sedikit beberes, dengan diantar oleh rombongan kecil istri dan anak-anak langsung pergi ke terminal Cicaheum. Sampai terminal langsung cari tiket di loket Bandung Ekspress,.. habis. Terus ke loket Pahala Kencana, alhamdulillah masih ada. Jadilah tiket seharga Rp 150.000 ditebus untuk perjalanan ke Jogja dengan rute selatan, melambung ke Magelang dan diperkirakan jam 5 pagi udah sampe Yogya... Mudah-mudahan nama besar bis ini sesuai dengan pelayanannya...

Wah... di luar ekspektasi, bis ini gak sebagus yang dibayangin. Eksteriornya menunjukkan ini bis sudah lama menjalankan tugasnya. Bukan keluaran terbaru, dan pastinya jauh jika harus ngebandingin dengan bus malam JB-KL.... Saya gak tahu bis ini pake mesin dengan lambang bintang segitiga atau lambang sayap seperti batman. Masuk kedalam, keliatan gak terlalu lega, mungkin ada sekitar 50 seats. Interiornya sudah keliatan lusuh. Bis udah penuh di dalam, kru bis keliatan sedang mengabsen ulang penumpang.. dan saya kebagian duduk di baris ke empat, alhamdulillah bisa dapet pinggir jendela. Bis sepertinya penuh, meski ada beberapa bangku kosong, tampaknya itu sudah dipesan oleh agen untuk penumpang yang naik tidak dari terminal Cicaheum.

Sekitar jam 19.30 bis keluar perlahan dari terminal cicaheum, belok ke kanan ke arah Suci, sebelum perempatan langsung belok kiri ke arah Jl. Ahmad Yani dan puter balik di depan IndoGrosir. Ini short cut.. karena harusnya bis lewat lampu merah dulu terus belok di samping Polsek, dan belok kanan untuk lanjut ke Jalan A.H. Nasution atau Ujung Berung...  Ah yang penting cepat dan irit BBM kali ya.... Malam itu jalanan tidak terlalu macet. Tanpa halangan melaju hingga ke Cileunyi. Lepas dari Cileunyi, bis sekali ambil penumpang di agen sekitar Rancaekek, terus lanjut non stop hingga istirahat di Tasik, kalau gak salah daerah Rajapolah.

Istirahat yang kurang lebih 30 menit dimanfaatkan untuk makan malam, dengan menu granat eh.. telur bulet, sayur sop, bihun goreng lalap dan krupuk plus bonus teh tawar... menu yang terlalu standar dan dari dulu gak berubah-ubah. Rest Areanya juga gak berubah konsep...  Kapan bisa minimal seperti rest area yang di jalan tol? Kenapa harus memilih yang seperti ini? Makanan gratis juga lebih baik ditinggalin kalau cuma seperti itu... Outlet popmie yang biasanya favorit, seharusnya bisa dibikin menarik, harga standar, dan pelayanan dengan pramusaji yang menarik, bukan mas-mas yang baru bangun tidur.....

Bus akhirnya melanjutkan perjalanan  ke arah timur, lepas dari Rajapolah masuk ke Ciamis, terus lanjut ke Banjar dan akhirnya dilepas oleh patung tentara yang didampingi oleh maung dan disambut oleh patung Pangeran Diponegoro di seberang Sungai Citanduy. Aha... ini berarti sudah masuk teritori Provinsi Jawa Tengah... dan ini berarti kurang lebih satu setengah jam akan menembus hutan dan jalan yang berkelak-kelok plus bonus jalan super rusak... Lima tahun yang lalu jalan ini sangat bagus, dan sekarang hancur dibanyak tempat.. Padahal mudik sebulan lagi... Kebayang nanti antrean mobil di jalur ini. Berbeda dengan jalur jalan provinsi Jawa Barat yang terkesan jauh lebih mulus..  Untuk yang satu ini saya angkat jempol untuk Kang Aher (meski saya gak ikut milih... he3).  Hallo Pakdhe Bibit? Hallo juga pak gubernur penggantinya....

Tak ada yang menarik sepanjang perjalanan, apalagi dikeremangan malam, tak ada pemandangan alam yang bisa dinikmati. Jalanan khas jalur selatan yang sempit membuat bis tidak bisa dipacu kencang. Subuh akhirnya bis dari Purworejo belok ke arah utara untuk masuk ke Magelang, dan dari kota tentara itu belok kanan ke arah Sleman DIY.  Setelah menurunkan penumpang di Jombor, bis belok kanan menyusuri ring road untuk menuju terminal akhir, Janti. Sebelum janti saya turun di prapatan ke arah Bantul. Tunggu penjemputan....
JOGJA-PWT
Siangnya saya putuskan untuk pulang lebih awal dari jadual sebelumnya. Meski saya sadar pasti tidak bisa ikut Sholat Jumat...  Jam 10.00 WIB saya  Menunggu bis yang sedang naik daun.. (hebat ini bis ya...) Efisiensi namanya. Sambil nunggu cari-cari info di internet tentang bis ini... wow ternyata memang bagus dan punya jadual perjalanan yang rapi. Dan ternyata saya juga membuang waktu dengan menunggu di pingiir jalan karena tidak ada bus Efisiensi yang mau berhenti dipinggir jalan. Akhirnya saya ambil keputusan untuk menuju terminal Janti dengan menggunakan bus tigaperempat. Rp 3000 perak sampai terminal...

Sampai terminal  saya langsung mencari tempat bis Efiensi berada. Ada beberapa bis yang siap berangkat, tak ada loket khusus, hanya satu meja di apron bis Efisiensi. Ternyata hanya untuk pesan tempat duduk dan menentukan bis mana yang akan kita naiki nanti. Ini mengingatkan saya pada Terminal Bis Queen Street di Singapura, disana juga ada dua tempat mejapengganti loket, satu meja milik perusahaan bis Causeway Link warga kuning ala bumblee bee dan satu lagi milik Singapore Johor Express (SJE) yang warna dan bentuk bisnya mirip bis Cirebon-Bandung, Bhinneka merah tua. Jika di perusahaan pertama hanya pesan tiket dan bayar diatas bis, kalau di operator kedua tiket harus ditebus dimeja... Jadi operator bis Efisiensi ini kayanya lebih mirip Causeway Link.

Bis-bis Efisiensi relatif baru, dan katanya ada dua jenis, satu yang tipe Royal Class dengan bangku 2-1, dan satunya lagi Patas dengan formasi bangku 2-2. Saya berharap bisa mendapatkan yang royal class seperti yang biasa kita temui di Singapura-Malaysia. Dream on.... saya kebagian yang 2-2. Yah... akhirnya pilih seat nomor 39, dua deret dari belakang. Ada di jejeran pintu darurat. Ini berarti ruang untuk kaki yang sangat lapang. Interior bis lumayan mewah, dengan jok empuk dan berbalut kulit (imitasi?) yang nyaman pula. Di beberapa tempat terdapat LCD kecil yang seperti hanya bisa diakses dengan earphone pribadi, karena provider bis tidak menyediakan. Terdapat juga beberapa colokan hape... nah ini baru paham kebutuhan konsumen. Saran ke manajemen Efisiensi mestinya harus diperbanyak...

Bis melaju sesuai jadual yang tercantum di kaca samping depan.. o iya, disetiap bis tercantum jadual keberangkatan. Dari Purwokerto atau Yogyakarta.... Keren. Bis berhenti di Gamping, sebuah wilayah di barat kota Yogya... sepertinya itu pos kontrol, tempat keberangkatan dan juga pool bis Yogyakarta.  Tempatnya seperti masih baru, warna bangunannya cacthy,  bersih.. Disini naik beberapa penumpang.. sekitar 15 menit bis berhenti. Bis kembali melanjutkan perjalanan. Kondektur manarik bayaran, 40 ribu per penumpang. Setelah itu acara bagi-bagi minuman aqua botol merek aguaria 300 ml (he..he... udah jadi nama generik untuk air mineral botol). Merek ini meski mirip-mirip sang market leader, untuk ukuran Jawa Tengah ini rajanya lho...
Bis berjalan cukup lambat. Entah karena jalan yang sempit sehingga susah melakukan overlap atau juga karena engga pake sistem setoran sehingga gak perlu berlomba cari penumpang di pinggir jalan. Ngeselin juga sebenarnya, apalagi perut sudah nagih minta diisi. Sempat menurunkan penumpang di Sokaraja, akhirnya  bis sampai terminal Purwokerto sekitar jam 17.30. Alhamdulillah....


PWT-BDG

Setelah isi perut di warung soto yang rasanya aneh... akhirnya langsung menuju bis yang akan menuju Bandung. Walah.. langsung mood-nya hilang karena yang ada ternyata bis ekonomi AC, udah pasti dengan tempat duduk 2-3. Bis dengan merk “Sari Harum” (mirip merek tahu sumedang nih....) ini kelihatan banget sudah cukup uzur. Dibeberapa tempat tampak cat yang mengelupas dan interior yang sudah cukup kusam. Hanya LCD tivi yang membuat sedikit baru, dengan dvd dangdut yang diputar berulang-ulang sepanjang perjalanan. Ow.. ada toilet dan smoking area-nya.. Mungkin ini dulu bis mewah pada jamannya... Sisa-sisa kejayaan.

Sengaja cari  tempat duduk di bangku 3 kursi, berharap bis gak penuh sehingga apabila diisi dua orang ada satu kursi yang bisa dimanfaatkan untuk kelebihan body ini. Sebelum berangkat bis tampat setengah penuh, tapi begitu sopir siap-siap menjalankan bis, tiba-tiba bis diserbu penumpang yang entah dari mana datangnya... Rupanya mereka adalah penumpang bis jarak “dekat” yang kemalaman dan sudah tidak menemui bis jarak dekat, sehingga dilarang naik terlebih dahulu oleh kru bis. Akhirnya bis meninggalkan terminal Purwokerto dengan penumpang yang bergelantungan oleh penumpang bis jarak dekat... Untung aja bis ini dilengkapi dengan pengharum ruangan elektrik yang secara periodik menyemprotkan parfum wangi.. Lumayan mengurangi bau-bauan berbagai macam sumber...

Meski tua, ternyata bis ini cukup oke menerobos jalanan sempit dan berkelak-kelok antara Purwokerto – Banjar. Beberapa kali berguncang karena buruknya jalan, beberapa bisa mengoverlap truk-truk yang kepayahan menaklukkan tanjakan. Lutut sudah mulai panas, badan terhimpit oleh 2 penumpang dengan 2 penumpang berukuran XXL... Lumbir, Majenang, Karangpicung terlampaui. Selamat tinggal pula jalanan rusak dan berlubang yang menyiksa. Masuk ke wilayah Jawa Barat  dengan kondisi jalan yang lebih bagus, bis bisa melaju lebih kencang. Apalagi penumpang jarak dekat sudah mulai turun, sehingga tinggal penumpang jarak jauh.

Meski ekonomi, bis ini tidak masuk ke terminal-terminal untuk mengambil penumpang. Ini membuat beberapa penumpang yang berharap bisa turun di terminal bis Banjar tampak menggerutu. Bis akhirnya hanya melewati Ciamis dan Tasik tanpa masuk terminal. Sempat berhenti istirahat disebuah rumah makan, yang lagi-lagi gak menarik di sekitar Malangbong. Bis kembali lanjut dengan penumpang yang tinggal setengah dari seluruh tempat duduk. Semakin berkurang ketika sampai di Cileunyi, menurunkan penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta atau memang sengaja turun di Cileunyi saja..

Akhirnya bis memasuki bundaran Cibiru sekitar pukul 03.00. Walah... ternyata pake acara ngisi solar dulu ini bis di daerah Ujung Berung, padahal bentar lagi sudah mau nyampe Cicaheum dan didepannya ada 2 bis pariwisata yang ngantri mau ngisi solar juga. Mungkin ini prosedur tetap semua bis ya... Tanki harus penuh sebelum masuk ke garasi. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bis menuju pemberhentian akhir.. Sempat ngobrol dengan kondektur yang mengeluhkan pendapatan yang semakin berat dengan naiknya harga BBM, premanisme di Terminal Purwokerto (yang katanya bisa menghabiskan uang sampai 500 ribu), setoran bis yang Rp 850.000 yang tidak bis ditawar lagi, solar yang habis sampai 1,4 juta dari tadinya sekitar Rp 900.000- Rp1.000.0000... Padahal dari Purwokerto ke Bandung dengan kondisi penumpang seperti tadi, dia bisa mengeruk uang kurang lebih 2,5 juta rupiah. Untuk penumpang terdekat, dari Purwokerto sampai Lumbir, setiap penumpang di kenakan sebesar 15.000 dan sampai Bandung dikenakan ongkos Rp 60.000,-... Ya.. hidup memang begitu, tak selalu ada di atas, tak selalu uang datang dengan mudah... Seperti roda bis, kadang diatas kadang dibawah...

Hitung punya hitung, saya ternyata menghabis waktu kurang lebih 18 jam untuk menempuh perjalanan Yogyakarta-Bandung. Ongkos tentu saja lebih murah dibanding pakai bus malam patas Yogya-Bandung, meski waktu tempuh dan kenyamanannya juga berbeda jauh. Walhasil saya membatalkan rencana menghadiri wisuda di Sasana Budya Ganesa (Sabuga – ITB) karena mata yang ngantuk dan badan yang lumayan capek. Dan ketika saya menyelesaikan tulisan ini, badan sudah menagih obat untuk radang di sendi lutut ini... Oleh-oleh dari Yogya.

Bandung, 07072013 nunggu kedai tutup.